Rabu, 06 Januari 2016

5 Things I Do Because of Books


Selamat pagi!

Membaca buku bukanlah hal yang asing bagi kita. Semenjak kecil kita diajarkan untuk bisa membaca buku. Karena kita diberitahu bahwa buku adalah jendela dunia. Buku dapat membawa orang mengenal hal-hal baru dan membawa wawasan yang berguna kelak dalam hidup. Oleh karenanya, kegiatan membaca buku seringkali bagiku membawa inspirasi. Seringkali aku terinspirasi dari buku, lain waktu aku pernah dibuat sedih oleh buku. Rasanya nano-nano deh!
Nah, untuk postingan kali ini aku akan berbagi beberapa hal yang aku lakukan yang terinspirasi dari buku. Tentu buku selalu berkesan dan menimbulkan after taste yang berbeda untuk setiap orang, beberapa buku bahkan bisa membawa perubahan bagi seseorang. Mari lihat after taste buku-buku yang pernah aku baca dan menjadi inspirasi bagiku untuk mengkoleksi sesuatu atau melakukan sesuatu,
Mengumpulkan Pasir Pantai
Pasir Pantai
Kebiasaan mengumpulkan pasir dan memasukkannya ke botol vial kecil setiap kali aku mengunjungi pantai merupakan kebiasaan yang muncul satu tahun terakhir. Aku menyimpan pasir pantai dari Pulau Sebesi sekitar bulan Mei 2015. Dan pasir itulah yang menjadi pasir pertama dalam koleksi pasirku. Sepanjang 2015 kemarin, ada 4 botol vial yang berisi pasir pantai. Selain dari Pulau Sebesi, ada juga pasir dari Pulau Umang, Pantai di Fuzhou Cina, dan terakhir dari Pantai Karang Bolong Banten. Aku mengadaptasi kebiasaaan ini dari tokoh Kai. Kai adalah salah satu karakter fiksi di novel Windry Ramadhina, Interlude. Kai dalam Interlude diceritakan sebagai seorang cowok yang gemar mengoleksi pasir pantai dan menyimpannya dalam botol yang ia simpan secara rapih di tempat khusus. Selain itu makna nama Kai yang artinya laut, serasa pas dengan hobinya ini. Setelah membaca kisah Kai, aku merasa ingin juga memiliki semacam kenang-kenangan dari setiap pantai yang pernah aku kunjungi. Dan kebetulan aku menyukai pantai, akhirnya aku juga mulai mengoleksi pasir pantai. Setidaknya, dari pasir pantai aku bisa mengingat kira-kira pantai mana saja yang pernah aku kunjungi dan apa saja kenangan yang menyertai pasir pantai tersebut (melankolis mode on ^^). Biasanya aku akan mengambil pasir pantai dalam botol vial kecil dan kemudian melabeli dengan pantai tempat pasir tersebut diambil.
Adhitia Sofyan 

Adhitia Sofyan
Banyak novel yang seringkali mengutip sebuah judul lagu atau lirik lagu. Ada juga tokoh dalam novel yang diceritakan memiliki musisi favoritnya sendiri. Adhitia Sofyan. Bagi beberapa orang mungkin nama ini terdengar asing, tapi mungkin bagi sebagian lain tidak asing. Adhitia Sofyan adalah musisi indie kelahiran Kota Kembang yang beraliran pop akustik. Lagu-lagu yang dibawakan oleh Adhitia Sofyan berlirik sederhana dan puitis yang easy-listening. Aku mengenal karyanya sejak tahun 2013, dimulai dari lagu After Rain.

If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way

In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me

If only I could find my way to the ocean
I’m already there with you
If somewhere down the line
We will never get to meet
I’ll always wait for you after the rain
Lagu ini bersuasana sendu dan romantis bersamaan. Pertama kali mendengar lagu ini, aku langsung jatuh hati dengan suara Adhitia Sofyan. Beranjak dari After rain, aku mulai mengunduh satu persatu lagu Adhitia dan kebetulan Adhitia sendiri mengunggah lagunya di blog milik pribadi. Sehingga setiap pengunjung dapat bebas mengambil lagu karyanya. Adhitia Sofyan sering menggelar konser di luar negeri seperti Jepang. Bahkan musiknya pernah dijadikan theme song untuk salah satu iklan kopi di Korea Selatan. Salah satu musisi Indonesia yang berbakat. Pertanyaannya dari mana aku mengetahui Adhitia Sofyan? Salah satu penulis favoritku, Windy Ariestanty menulis novel Kala Kali yang merupakan karya duet dengan Vabyo. Tokoh wanita karangan Windy di novel tersebut menyukai lagu After Rain. Awalnya aku hanya penasaran dengan liriknya After Rain yang berpuisi, lama setelahnya aku langsung tersihir dengan nada dan liriknya. Buat yang ingin mengunjungi blognya Adhitia Sofyan bisa langsung ke sini
Kartu Pos 
Koleksi Kartu Pos
Salah satu kebiasaan yang muncul juga di tahun 2015 adalah mengumpulkan kartu pos dari berbagai tempat. Awalnya, aku tidak terlalu berminat dengan kartu pos. Namun, beberapa teman jika ia sedang bepergian kadang bertanya, "kamu pengen dibawain apa?" Aku selalu bingung dan tak enak hati untuk meminta oleh-oleh kecuali teman tersebut yang menawarkan. Akhirnya, aku menjawab asal bahwa aku ingin dibawakan kartu pos saja gara-gara melihat halaman sampul depan buku-buku STPC Gagas Media dan Bukune yang seringkali memiliki desain seperti kartu pos. Hingga saat ini, setiap kali ada teman yang traveling ke mana pun, aku akan meminta kartu pos (kalau ditawarin ^^).

The Script 

The Script
Band The Script berhasil menjadi band favoritku sejauh ini. Lagu-lagunya yang menginspirasi dengan musik yang benar-benar enak didengar saat sedang hulang-huleung (bahasa sundanya diam tak ada kerjaan) dapat membuat semangat kembali. Ada hentakan-hentakan di setiap musik yang mereka mainkan. Dan selalu ada hal baru. Sebut saja lagu Breakeven yang bercerita patah hati berbeda dengan lagu Superheroes yang berkisah tentang perjuangan sebuah idealisme. Pertama kali mengenal The Script sih bukan dari lagunya yang tentang gagal move on itu, tapi justru dari Breakeven. Hal ini dikarenakan awalnya aku membaca buku Restart karya Nina Ardianti yang sempat menulis lirik Breakeven di buku tersebut. Akhirnya aku mulai mencari juga musiknya. Pada akhirnya aku menjadi pecandu lagu-lagu The Script. 


Djendelo Cafe

Djendelo Cafe adalah kafe yang sempat aku kunjungi di tahun 2014 saat aku mengunjungi Jogjakarta. kafe ini terletak di Jalan Kejayan, Jogjakarta. Yang unik dari kafe ini selain dari segi namanya, adalah interior vintage dan suasana homey yang disediakan kafe ini. Belum lagi nama-nama menunya yang cukup unik. Entah apa saja nama-namanya, aku lupa. Pokoknya yang sempat aku baca adalah menu dengan nama tokoh Rahwana atau Bima. Satu lagi, kafe ini terletak di lantai atas Toko Buku Togamas. Ini juga menjadi kelebihannya. Bagi pecinta buku dan kopi, kamu bisa sekalian membeli buku di Togamas dan membacanya sambil minum kopi di kafe ini. Apa yang membuatku nekat pergi ke Djendelo Cafe di Jalan Kejayan dari Malioboro yang jaraknya cukup jauh? Aksi nekat ini akibat aku membaca buku Kata Hati karya Bernard Batu Bara yang tokoh-tokohnya banyak menghabiskan waktu di Djendelo Cafe. Buku ini sempat membuatku penasaran dengan Djendelo. Memang kalau dipikir-pikir sekarang, aku benar-benar nekat. Tapi kenekatanku membawa hasil, di sana juga aku bertemu dengan Mas Dion dan Mbak Desty yang kebetulan sedang berada di Togamas. Awalnya aku menyempatkan share location di media sosial Path. Lalu, tiba-tiba Mas Tezar menghubungiku, menanyakan apa aku benar-benar ada di kafe tersebut. Aku bilang, ya. Dan Mas Tezar memberitahuku bahwa Mas Dion dan Mbak Desty ada di sana. Niat nekat tapi ketemu juga dengan teman-teman BBI. Pengalaman ini berkesan bagiku ^^

Selain pengetahuan dan cerita, ada banyak hal unik dan inspirasi yang didapatkan dari buku. Alasan ini yang selalu membuatku semangat membaca buku. Banyak hal yang bisa dipelajari dan banyak hal yang bisa diterapkan dalam keseharian yang terkadang membawa kebaikan ke depannya. Begitulah, 5 hal yang kebiasaan dan koleksi yang muncul akibat buku. Bagaimana denganmu? Punya kebiasaan yang terisnpirasi dari buku? Atau kamu punya gebetan gara-gara buku? Silahkan saling berbagi ^^

5 komentar:

  1. Wah besok kalo ke Djendelo lagi kabar-kabar ya, biar bisa kopdar sama teman-teman BBI Jogja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku pengen ketemu juga sama semua member BBI Jogja. Kapan-kapan ke sana lagi ^^

      Hapus
  2. Hai Siro.... kapan2 kita ketemuan lagi ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, mbak Desty... Siap! Ayo ketemu lagi,.

      Hapus