Sabtu, 30 Januari 2016

30 Paspor di Kelas Sang Profesor: Buku 1 #Secret Santa 2015

Judul: 30 Paspor di Kelas Profesor: Buku 1
Penulis: J.S. Khairen
Penerbit: Noura Books, Mizan
Jumlah Halaman: 328 halaman
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 9786021306734
Genre: Non Fiksi, Kumpulan Cerita
Format: Paperback

Dosenku sering berpesan di depan kelas bahwa orang membutuhkan pressure supaya mereka bisa melakukan h al-hal yang tidak mereka duga bahwa mereka bisa melakukannya
-Ismi Tamara dalan "Permen Jahe dan Smartphone yang (Tidak) Selalu Bisa Diandalkan-

Seseorang pernah berkata bahwa untuk menemukan hal baru dan memahami sesuatu, terkadang butuh tersesat di jalan saat mencarinya. Buku ini berkisah tentang perjalanan para mahasiswa dari mata kuliah Pemasaran Internasional yang diajarkan oleh Rhenald Kasali. Dalam mata kuliah tersebut, sang dosen mencetuskan tugas pada setiap mahasiswanya untuk membuat paspor saat mereka pertama kali masuk. Hal yang aneh karena tak ada mata kuliah yang mewajibkan memiliki paspor selama ini. Kecuali ya mata kuliah satu yang diajar oleh Rhenald Kasali. Ternyata ada alasan dibalik tugas paspor. Beranjak dari pemahaman bahwa manusia baru memahami kemampuannya sendiri yang hebat, setelah mampu mengahdapi kesulitan. Apalagi jika kesulitan itu dihadapi sendiri di negeri orang tanpa bantuan orang yang dikenal.
Tak banyak orang yang mengerti bahwa keunggulan yang dicapai manusia kelak tak pernah lepas dari seberapa hebat ia terlatih menghadapi aneka kesulitan dan tantangan kehidupan.
Maka muncullah pendidikan Self Driving oleh Rhenald Kasali dengan mengharuskan setiap mahassiwa yang mengambil mata kuliah Pemasaran Internasional untuk menggunakan paspor mereka. Setiap mahasiswa diwajibkan pergi ke negara yang memiliki kebudayaan berbeda dengan Indonesia tentu di dalamnya termasuk bahasa berbeda. Satu hal lagi, setiap mahasiswa tidak boleh memilih kota yang sama, kalaupun di negara yang sama. Alhasil tentu saja para mahasiswa didera kebingungan dengan tugas "paspor". Pandangan umum banyak berbicara bahwa sulit untuk keluar negeri, apalagi yang terbesar tentu masalah biaya. Belum lagi, tentu tugas ini bakal mengharuskan mereka meninggalkan mata kuliah lain. Hal ini juga yang memicu perdebatan di antara orang tua mahasiswa dan para dosen lain. Tapi sekali lagi, Rhenald Kasali menegaskan bahwa mahasiswa ini perlu diajarkan kehidupan sesuangguhnya dengan melalui melepas mereka ke negeri antah berantah. 

Maka, mengajak mahasiswa menggunakan paspor mereka masing-masing adalah ibarat melepas jahitan yang ada di sayap mereka, dan melatih terbang kembali menjelajahi alam semesta ini. Menjadi rajawali. Juga menjadi great driver, yang pandai mengendarai kendaraan pemberian Tuhan yang Maha sempurna: yourself, not your UI, your ITB, or your Harvard.
Dimulailah perjalanan para mahasiswa dengan paspor mereka. Mengalami perjalanan "kesasar" dengan segala macam suka dan dukanya.

Ada perjalanan Ragil Caitra Larasati di negeri es dan api, lslandia. Mengalami salju pertama dan ulang tahun pertama tanpa keluarganya di sana. Mengalami sensasi mendengarkan musik dan menyaksikan cahaya dari Imagine Peace Tower yang hanya dinyalakan pada saat tertentu.
"Islandia adalah impianku sejak duduk di bangku SMA kelas dua. Aku ingin memanjakan pikiranku sembari menikmati musik eksperimental yang dilantunkan oleh musisi lokal di sana"  
"Aku merasa bahwa perjalanan ini sama seperti kehidupan. Prosesnya bisa saja menyebalkan, atau membuat mati rasa. Tapi, ketika kamu sudah sampai ditujuan, semua beban rasanya sirna.
Lain cerita Ragil, lain pula Abdurrahman. Ia berangkat ke Turki dengan maksud meneliti gerakan Slow Food Movement. Yaitu, sebuah gerakan untuk mengimbangi kebiasaan memakanan  makanan cepat saji (Fast Food). Tak hanya mendapat ilmu, ia juga bisa mendapat pengalaman bermain bola dengan anak-anak Turki yang siapa tahu di kemudian hari adalah penerus Hakan Sukur, katanya. 
"Yang kita butuhkan adalah kemampuan menghadapi warna-warni situasi di dunia nyata yang kadang tidak dijelaskan dalam buku-buku teks"
Satu kisah dari Syarif Awad Umar yang mengunjugi Shanghai dengan berbagai cobaan yang sudah menunggunya di awal. Ia memiliki paspor yang expired tertanggal 14 Juni 2014. Menurut aturan, paspor harus sudah diperbaharui minimal 6 bulan sebelum tanggal kadaluarsanya. Sayangnya, ia sempat menggampangkan hal tersebut. Di akhir baru terasa bahwa ternyata ribet untuk hanya mengurus paspor, dari mulai daftar online dan baru bisa diproses tanggal 10 Maret, padahal ia harus berangkat ke Cina 14 Maret. Sampai saat mengurus harus berlari dari satu orang ke orang lain hanya demi mendapat pengurusan paspor lebih cepat.
" Gue makin menyesal karena bersantai-santai di awal. Tapi, gue yakin ini bisa gue lewati."
Kisah halangan itu tak berakhir di sana, tapi juga di kepulangannya setelah dari Cina. Karena terlambat ia harus gagal naik pesawat ke Indonesia. Tapi untung ada orang Indonesia sebangsa yang baik mau membantunya. Karena memnag terkadang saat kita berada di negeri orang tanpa hubungan darah pun orang sebangsa layaknya berhubungan darah telah lama bagai keluarga.
 Ya. Keberanian adalah kata kunci yang tepat untuk mengubah nasib.


Banyak kisah dari para mahasiswa Rhenald Kasali yang menarik. Buku ini tak hanya berbicara tentang tips sebuah perjalanan lebih dari itu, buku ini mengajak pembaca untuk berani kesasar untuk mengetahui sejauh mana kemampuan masing-masing menghadapi kesulitan saat kesasar. Bonus lainnya, buku ini tak merangkum hanya satu negara, tapi juga beberapa negara. Jepang Jerman, Laos, Cina, dan banyak negara lainnya.
Hal yang kurang adalah sedikitnya cerita dari masing-masing mahasiswa (^^) ya mungkin karena keterbatasan jumlah halaman, rata-rata tak banyak kisah yang tertutur lambat. Seringnya lebih cepat kisahnya berakhir. Tak ada penjelasan terperinci seperti step by step bagaimana mereka mengatasi masalah mereka. Yah, karena mungkin bidikannya juga bukan ke buku traveling. Tapi lebih ke buku self-help dengan tema traveling. Sejauh ini aku menyukai buku ini, karena membuatku semangat untuk tersesat dan mencoba berbagai negara yang tak kukenal sama sekali. Satu hal lagi, mungkin kurang foto yang banyak ^^.

Keep reading for your rest of your life!
Rating 3.5/5


Terima kasih banyak pada Santa yang berbaikhati mengirim sepasang buku yang masuk wishlistku, yaitu buku 30 Paspor untuk Kelas Profesor ini dan Clockwork Prince (yang belum selesai kubaca, karena masih tebal ^^, tapi bakal kuselesaikan dan review kok, Santa!). Benar-benar dua buku yang berkesan. Dan kini saatnya menebak Santa. Sedikit curhat, seperti biasa aku sangat blank tentang siapa ini Santa. Karena Santa mengirim sederet angka yang aku tak tahu maknanya (pada awalnya). Sudah rubah sana sini, tapi masih bingung siapa Santa ini. Maka hal pertama yang aku cek, adalah resi pengiriman Santa. Setelah aku cek di web salah satu kurir barang, ternyata kode mengarah pada Surabaya. Maka kuputuskan bahwa Santa adalah orang Surabaya.
Tapi, eh tapi aku masih belum dapat memecahkan kode tersebut. Aku entah kenapa saat itu tidak pernah memikirkan bahwa ID yang dimaksud santa adalah ID nomor kenggotaan BBI. Yup ternyata itu adalah ID BBI nya. Setelah meminta (baca: dengan memelas) pada seorang peri dari dua tahun lalu. Ia menyarankan bahwa kode pengiriman Surabya juga bisa berarti dari Malang. Karena memiliki kode yang sama. Dan setelahnya terkuaklah santa ini.


-Hamidah F. Khairani-
dari Escapist's Book List

Sekali lagi, terima kasih banyak Santa!. Benarkah itu dirimu? Lihat besok saja~~
P.S: Terima kasih juga, peri!^^





13 komentar:

  1. Kalau nggak ada hint, aku kayaknya keasyikan ngerjain soal itu deh xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mata pelajaran kesukaan ya, Syifa?^^

      Hapus
  2. benarkah tebakan anda? hohohoho, santa2 datanglah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar ternyata, Ms X tahun lalu ^^

      Hapus
  3. kayaknya bener ya... btw bukunya menarik ya.. baru denger tentang buku ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka traveling? Bagus kalau baca buku ini

      Hapus
  4. Ahujauajaua *lambaikan tangan* *angguk-angguk* aku gak tega klo gak ngasih hints >_< selamat baca buku yang satunya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Santa! Makasih banyak loh bukunya~~~ Sedang menamatkan buku keduanya,. Bener-bener bikin ketagihan ^^

      Hapus
  5. Kalau aku tersesat di tempat yang kulinernya enak, sudah tentu aku akan sedikit tenang. :D Lalu berpikir bagaimana aku bisa pulang.

    BalasHapus
  6. Wihhhh, template-nya baru, selamat ya, lebih minimalis, tahu banget deh desainnya siapa XD

    BalasHapus
  7. Oaah, juga pengen kesasar nih ;D

    BalasHapus
  8. Kak dari review kamu tentang buku ini aku jadi tertantang untuk bisa berangkat ke luar negeri kak. Kayaknya modal nekat yg penting sampe dulu masalah laen belakangan. Hehehe

    BalasHapus
  9. Seandainya saja aku boleh melakukan hal tersebut aku pasti deh akan keliling dunia sambil backpacker. This is my dream.

    BalasHapus